Jakarta, – Inovasi digital menjadi penggerak utama dalam memperkuat transformasi ekonomi dan keuangan digital (EKD) di Indonesia. Melalui konsep frugal digital innovation, Indonesia mendorong penerapan inovasi yang efisien, tepat guna, dan inklusif. Semangat tersebut mengemuka pada hari ketiga penyelenggaraan Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit Expo 2025 (FEKDI x IFSE 2025) di Hall B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Selasa (1/10).
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa inovasi merupakan salah satu pilar utama dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030, guna mewujudkan ekosistem pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman, andal, dan inklusif. Pengembangan inovasi sistem pembayaran diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan inklusivitas, menjaga keseimbangan antara inovasi, manajemen risiko, serta pelindungan konsumen.
Lebih lanjut, Perry menyampaikan bahwa Bank Indonesia terus memperkuat pengembangan Digital Innovation Center (DIC) sebagai ruang kolaborasi antara regulator, pemerintah, lembaga riset, akademisi, dan pelaku industri. DIC menjadi wadah pengembangan inovasi digital yang berdaya saing global sekaligus memperkuat kapasitas dan talenta digital nasional untuk mendukung penyerapan tenaga kerja.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menekankan pentingnya mekanisasi dan teknologi dalam meningkatkan produktivitas sektor pangan. Menurutnya, frugal innovation menjadi kunci dalam memperpendek rantai pasok antara produsen dan konsumen sehingga menekan biaya sekaligus meningkatkan efisiensi.
“Berbagai keterbatasan kita pecahkan melalui frugal innovation, yaitu melalui digitalisasi. Biayanya rendah, namun produktivitas meningkat dan harga menjadi lebih terjangkau bagi konsumen,” ujar Zulkifli.
Masih dalam rangkaian FEKDI x IFSE 2025 hari ketiga, digelar casual talk bertema “Artificial Intelligence and Frugal Innovation: Jalan Baru untuk Pemberdayaan Ekonomi Inklusif.” Dalam sesi tersebut, Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung menyampaikan bahwa saat ini dibutuhkan bukan hanya high-tech tetapi juga right-tech atau teknologi tepat guna.
“Kombinasi kecerdasan artifisial (AI) dan frugal innovation menjadi rumus baru untuk inklusi. Digitalisasi yang inklusif bukan tentang algoritma paling canggih, tetapi tentang empati dan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Juda.
Pada kesempatan tersebut, juga diumumkan para pemenang QRIS Jelajah Budaya Indonesia (QJI) 2025 dan BI–OJK Hackathon 2025.
QJI 2025 mengusung misi memperluas akseptasi pembayaran digital sekaligus mempromosikan budaya lokal melalui kreativitas generasi muda. Kompetisi ini diikuti oleh 8.278 peserta dari seluruh Indonesia, meningkat dibandingkan 6.618 peserta pada tahun sebelumnya.
Pemenang QJI 2025 meliputi: Wilayah Sumatera – Tolusan, Wilayah Sulampua – Pakanjara, Wilayah Jawa – The Proyektor, Wilayah Balinusra – Trilogy, dan Wilayah Kalimantan – QRISPi.
BI–OJK Hackathon 2025, hasil kolaborasi Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan, menghadirkan 743 proposal inovasi dari 2.336 peserta. Lomba ini menyoroti tiga problem statement utama: AI as a Service for Digital Delivered Service Export, Financial Innovations & Public Services, serta Risk Management & Consumer Protection.
Pemenang kategori Profesional adalah Dewantara, Meaningful Intelligence, dan Niriksagara; sedangkan kategori Mahasiswa dimenangkan oleh MTAF Impact, KancaKids, dan Chain Intelligence.
Menutup rangkaian kegiatan, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak atas dukungan dan komitmen terhadap percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan nasional.
“FEKDI x IFSE 2025 menjadi wujud nyata semangat whole of nation approach, yakni kolaborasi lintas otoritas, industri, akademisi, dan masyarakat. Sinergi dan inovasi menjadi kunci dalam membangun ekosistem ekonomi dan keuangan digital menuju Indonesia Emas 2045,” tutur Destry.
Penyelenggaraan FEKDI x IFSE 2025 merupakan hasil sinergi Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dengan dukungan sejumlah kementerian dan lembaga terkait. Ajang ini menjadi wadah kolaborasi strategis dalam memperkuat inovasi, inklusi, dan kebijakan digital menuju ekonomi Indonesia yang tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing global. (**)




























