Medan — Suasana di kawasan Jalan Abdullah Lubis, Medan, Selasa (20/1/2026), tampak seperti biasa. Aktivitas warga berlangsung perlahan di tempat serapan pagi Uni Una dan RR Coffee yang berdampingan dengan Masjid Al-Jihad. Di salah satu meja sederhana, Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara, Dr. Sutarto, M.Si, duduk santai menikmati secangkir kopi sambil berbincang dengan Hidayat Tanjung, Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Garda Konsumen Nasional (LPK-GKN).
Pertemuan tersebut berlangsung tanpa protokol resmi. Tidak tampak pengawalan khusus maupun atribut kekuasaan yang menonjol. Sutarto hadir sebagaimana warga lainnya, menyatu dengan suasana serapan pagi yang diwarnai obrolan ringan dan aktivitas masyarakat sekitar.
Silaturahim itu mencerminkan keseharian Sutarto yang selama ini dikenal luas di kalangan masyarakat. Bukan semata karena posisinya sebagai pimpinan lembaga legislatif daerah, melainkan karena sikapnya yang terbuka dan mudah ditemui. Hidayat Tanjung menilai, kesederhanaan merupakan karakter yang melekat pada diri Sutarto dan membedakannya dari banyak pejabat publik lainnya.
Menurut Hidayat, Sutarto adalah salah satu tokoh di Sumatera Utara yang mampu berbaur dengan berbagai lapisan masyarakat. Kehadirannya di ruang-ruang informal, seperti warung kopi atau tempat serapan pagi, menunjukkan sikap rendah hati dan kedekatan dengan warga. “Sebagai anggota dewan, beliau sangat sederhana,” ujar Hidayat.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah tamu lain turut bergabung. Sebagian besar mengenal Sutarto, baik secara personal maupun melalui kiprahnya di tengah masyarakat. Percakapan berlangsung cair, membahas berbagai topik mulai dari keseharian hingga persoalan sosial yang kerap dihadapi warga. Dalam suasana itu, Sutarto lebih banyak menyimak dan memberi ruang kepada orang-orang di sekitarnya untuk menyampaikan pandangan.
Bagi Hidayat, sikap tersebut mencerminkan karakter kepemimpinan yang membumi. Sutarto dinilai mampu menempatkan diri di berbagai lingkungan tanpa menciptakan jarak, serta menjalin komunikasi secara alami dengan siapa pun yang ditemuinya. Pendekatan semacam itu membuat kehadirannya diterima di berbagai kalangan, baik dalam forum resmi maupun di ruang publik yang sederhana.
Silaturahim pagi di Jalan Abdullah Lubis itu berakhir tanpa seremoni. Tidak ada agenda politik maupun pernyataan resmi yang disampaikan. Namun, pertemuan singkat tersebut meninggalkan kesan tersendiri tentang praktik kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat.
Di tengah dinamika politik yang kerap dipersepsikan berjarak, pertemuan santai itu menjadi gambaran bagaimana seorang wakil rakyat memilih hadir di tengah kehidupan sehari-hari warganya dan membangun kedekatan melalui cara-cara sederhana. (Imran)



























