Medan – Umat Islam di seluruh dunia hari ini merayakan Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Qurban. Dalam semangat berbagi dan pengorbanan, umat Muslim dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS serta keteguhan hati anaknya, Nabi Ismail AS.
Peringatan Idul Adha di Masjid Al-Huda di Jalan Denai, Gang Pinang, Medan, diisi dengan salat Ied dan tausiyah oleh Ustaz Ibnuh Salim, S.HI. Dalam khutbahnya, Ustaz Ibnuh Salim mengangkat kisah monumental tentang Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail, yang merupakan asal muasal disyariatkannya ibadah kurban.
“Dikisahkan, Nabi Ibrahim AS belum memiliki anak dari istrinya, Sarah. Atas saran Sarah, beliau menikah dengan Hajar, dan dari pernikahan itu lahirlah Nabi Ismail AS. Ketika Ismail menginjak usia remaja, Ibrahim mendapat perintah dalam mimpi untuk menyembelih anaknya. Dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, ia pun membawa Ismail ke padang tandus untuk melaksanakan perintah tersebut,” tutur Ustaz Ibnuh di hadapan jamaah yang memadati halaman masjid. Pada Jumat, (06/06/25).
Lebih lanjut, Ustaz Ibnuh Salim menyampaikan bahwa peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Ash-Shaffat ayat 102 yang berbunyi: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
Menurutnya, ayat tersebut mengandung pelajaran mendalam mengenai ketaatan seorang anak terhadap orang tua serta keikhlasan dalam menjalankan perintah Ilahi.
“Ini menjadi teladan agung bagi keluarga Muslim, bagaimana komunikasi antara ayah dan anak dalam menghadapi ujian dari Allah SWT, serta pentingnya restu dan dukungan dari istri baik Hajar maupun Sarah yang menunjukkan bahwa keteguhan keluarga adalah kunci keberhasilan dalam menjalankan syariat,” lanjutnya.
Ustaz Ibnuh Salim juga menekankan bahwa peristiwa Qurban bukan semata-mata ritual penyembelihan hewan, melainkan momentum reflektif bagi umat Muslim untuk menguatkan keimanan dan meningkatkan ketakwaan. Semangat berqurban mencerminkan keikhlasan, kepasrahan, dan pengorbanan yang harus senantiasa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Idul Adha adalah momen yang mengajarkan kita untuk ikhlas dalam menghadapi setiap cobaan dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Semangat ini harus tercermin dalam kehidupan sosial kita, terutama dalam berbagi kepada sesama, khususnya kepada mereka yang membutuhkan,” ujar beliau.
Peringatan Idul Adha tahun ini di Masjid Al-Huda ditutup dengan penyembelihan hewan Qurban oleh panitia masjid, yang kemudian dagingnya akan didistribusikan kepada masyarakat sekitar, kaum dhuafa, dan para jamaah.
Dengan semangat Qurban yang terus hidup dari generasi ke generasi, diharapkan nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, dan solidaritas umat semakin tumbuh dalam kehidupan berbangsa dan beragama. (Bustami)



























