Pariaman – Tradisi menyambut bulan suci Ramadan di tengah masyarakat Minangkabau dinilai tetap terpelihara hingga kini. Sejumlah ritual adat yang sarat makna spiritual dan sosial masih dilaksanakan secara turun-temurun di berbagai nagari di Sumatera Barat.
Hal itu disampaikan Khairul, Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Nurul Iman Padang Madung, Nagari III Koto, Aur Malintang Selatan, Kabupaten Padang Pariaman, Senin (16/2/2026).
Menurut Khairul, tradisi seperti Balimau, Malamang, Ziarah Kubur, Manjalang Mintuo, hingga Marandang bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari identitas kultural masyarakat Minang.
“Orang Minang masih kental dengan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun sampai sekarang,” kata Khairul.
Ia menjelaskan, Balimau dilaksanakan sehari sebelum Ramadan dengan mandi menggunakan campuran air jeruk nipis atau rempah-rempah wangi. Ritual tersebut menjadi simbol pembersihan diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum memasuki bulan suci.
Selain itu, Marandang atau memasak rendang bersama keluarga besar menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus menyiapkan lauk untuk kebutuhan sahur dan berbuka puasa. Tradisi Malamang membuat lemang secara gotong royong juga tetap dilaksanakan sebagai wujud kebersamaan antarwarga.
Masyarakat setempat turut melaksanakan Ziarah Kubur ke makam leluhur sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan kematian. Sementara Manjalang Mintuo, yakni mengunjungi mertua, menjadi bagian penting dalam menjaga keharmonisan hubungan kekeluargaan.
Khairul berharap Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi menjadi momentum meningkatkan kualitas ibadah dan memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat.
“Atas nama keluarga, kami mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin apabila ada kesalahan, baik perkataan maupun perbuatan,” ujarnya. (Bustami)




























