Karo – Di tengah pesatnya perkembangan ilmu kedokteran modern, praktik pengobatan alternatif masih menjadi pilihan bagi sebagian masyarakat. Di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sejumlah warga mengaku memanfaatkan pendekatan nonmedis sebagai upaya pendamping setelah menjalani pemeriksaan maupun perawatan secara medis.
Fenomena tersebut terlihat dari aktivitas sejumlah praktisi pengobatan alternatif yang tetap menerima pasien. Salah satunya adalah M. Syafi’i Siregar, yang akrab disapa Bang Regar. Ia dikenal di kalangan pasien sebagai praktisi pengobatan nonfisik dengan pendekatan spiritual dan metafisika.
Bang Regar mengklaim pasien yang datang kepadanya tidak hanya berasal dari wilayah Sumatera Utara, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia seperti Pulau Jawa dan Kalimantan. Selain itu, ia menyebut pernah menerima pasien dari luar negeri, antara lain Thailand, Bangladesh, Singapura, dan Malaysia. Ia juga mengatakan pernah membantu sejumlah pejabat, meski tidak merinci identitasnya.
Saat ditemui di Kabupaten Karo, Kamis (12/2/2026), Syafi’i menuturkan bahwa kemampuannya bermula dari pengalaman mati suri yang dialaminya pada era 1980-an. Peristiwa itu, menurut dia, menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya.
“Sebelum peristiwa itu, saya sudah merasakan ada kelebihan sejak remaja. Namun setelah mengalami mati suri, saya merasa lebih peka dan bisa merasakan hal-hal yang sebelumnya tidak saya tangkap,” ujar Syafi’i.
Ia mengungkapkan, sejak saat itu sejumlah orang mulai datang kepadanya untuk meminta bantuan. Permintaan tersebut, kata dia, berkaitan dengan persoalan yang diyakini bersifat nonfisik maupun gangguan yang tidak kunjung teratasi secara medis.
Dalam praktiknya, Bang Regar mengaku menangani berbagai persoalan yang dipercaya pasien berkaitan dengan gangguan nonmedis, seperti dugaan guna-guna atau santet, pengasihan (pemanis), hingga pelaris usaha. Ia menegaskan pendekatan yang dilakukan bersifat spiritual dan tidak menggantikan tindakan medis.
Syafi’i juga menyampaikan dirinya tergabung dalam salah satu wadah metafisika di Indonesia untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman dengan sesama praktisi dari berbagai daerah.
Sejumlah pasien yang ditemui secara terpisah mengaku mendatangi praktik tersebut setelah menempuh jalur medis, tetapi belum memperoleh hasil sesuai harapan. Mereka berharap pendekatan alternatif dapat menjadi ikhtiar tambahan atas persoalan yang dihadapi.
Praktik pengobatan alternatif kerap memunculkan beragam pandangan di tengah masyarakat. Sebagian menilai pendekatan tersebut merupakan bagian dari tradisi dan sistem kepercayaan yang telah lama berkembang.
Di sisi lain, kalangan tenaga kesehatan mengingatkan pentingnya mengutamakan diagnosis serta penanganan berbasis ilmiah dalam menangani persoalan kesehatan. Pendekatan medis dinilai tetap menjadi rujukan utama karena telah melalui proses penelitian dan uji klinis.
Menanggapi pandangan tersebut, Bang Regar menegaskan bahwa dirinya tidak pernah bermaksud menggantikan peran tenaga medis.
“Semua atas izin Tuhan. Saya hanya berusaha membantu sebatas kemampuan saya. Untuk urusan medis, tetap harus ke dokter,” katanya.
Di tengah perbedaan perspektif tersebut, praktik pengobatan alternatif di Kabupaten Karo menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih mencari pendekatan nonmedis sebagai pendamping perawatan kesehatan. Keberadaan praktik semacam ini menjadi cerminan dinamika kepercayaan dan kebutuhan masyarakat yang beragam di era modern. (Imran)



























